Macam-macam Sediaan Umum Obat (Bagian 1)

Mengenal sediaan aerosol,  emulsi, ekstrak dan ekstrak cair, gel, implan, imunoserum, dan inhalasi.


Teknologi di bidang farmasi berkembang sangat pesat. Peneliti dan perusahaan farmasi berlomba-lomba untuk menemukan teknologi baru yang dapat mempermudah pasien dalam menggunakan dan efektivitas terapi yang semakin maksimal. Perkembangan tersebut menyebabkan banyak bentuk sediaan farmasi yang beredar di masyarakat. Pada artikel kali ini akan kita bahas beberapa sediaan umum yang sering digunakan di masyarakat.

1. Aerosol (Aerosols)

Dalam bidang farmasi, sediaan aerosol adalah sediaan yang dikemas di bawah tekanan, mengandung zat aktif terapetik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. Bentuk sediaan ini dapat berupa sediaan topikal yang semprotkan pada kulit maupun untuk pemakaian lokal pada hidung (aerosol nasal), mulut (aerosol lingual) atau paru-paru (aerosol inhalasi). Penjelasan lebih lanjut mengenai aerosol inhalasi dapat dilihat pada bagian inhalasi di bawah.

Komponen dasar pada sistem aerosol adalah wadah, propelan, konsentrat mengandung zat aktif, katup, dan penyemprot. Wadah didesain sedemikian rupa untuk memastikan keamanan terhadap tekanan. Propelan atau bahan pendorong adalah bahan yang memberikan tekanan yang dibutuhkan untuk mengeluarkan bahan dari wadah, dan dalam kombinasi dengan komponen lain mengubah bahan ke bentuk fisik yang diinginkan. Umumnya propelan dibuat dari gas yang dicairkan atau dimampatkan sehingga memiliki tekanan yang lebih besar dari tekanan atmosfer. Katup dalam sediaan aerosol berfungsi untuk mengatur aliran zat obat dan propelan dari wadah. Katup dapat dirancang untuk dapat disemprotkan terus menerus (umumnya untuk sediaan topikal) maupun dosis terukur (umumnya pada sediaan inhalasi) yang memberikan dosis yang diinginkan dalam sekali semprot. Penyemprot adalah alat yang dilekatkan pada batang katup yang jika ditekan atau digerakkan, membuka katup dan mengatur semprotan yang mengandung obat ke daerah yang diinginkan.

2. Emulsi (emulsions)

Emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil. Terdapat dua macam emulsi, yaitu emulsi minyak dalam air (minyak terdispersi dalam medium air) dan emulsi air dalam minyak (air terdispersi dalam medium minyak atau bahan seperti minyak). Emulsi dapat distabilkan dengan menambahkan bahan pengemulsi (surfaktan) yang mencegah terjadinya koalesensi, yaitu penyatuan partikel-partikel kecil zat terdispersi menjadi satu fase tunggal yang terpisah dengan medium. Konsistensi emulsi dapat berbentuk cairan yang mudah dituang hingga krim semisolid. Karena sediaan ini mengandung air, maka diperlukan pengawet untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Namun penggunaan pengawet ini menimbulkan masalah lain yaitu memisahnya pengawet dari fase air atau terjadi kompleksasi dengan bahan pengemulsi sehingga mengurangi efektivitasnya. Oleh karena itu, uji efektivitas pengawet harus dilakukan pada sediaan akhir.

3. Ekstrak dan Ekstrak Cair (extracts and fluidextracts)

Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan hingga diperoleh massa atau serbuk yang tersisa. Pemekatan biasanya dilakukan dengan cara destilasi dengan pengurangan tekanan agar suhu yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi.

Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia yang mengandung etanol sebagai pelarut dan/atau sebagai pengawet. Ekstrak cair yang cenderung membentuk endapan dapat didiamkan dan disaring atau bagian yang bening dienaptuangkan.

4. Gel (Gels)

Gel (kadang disebut jeli) adalah sediaan semisolid terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar terpenetrasi oleh suatu cairan. Sediaan ini dapat digunakan secara topikal atau dimasukkan ke dalam lubang tubuh.

Gel digolongkan sebagai sistem dua fase jika massa gel terdiri dari jaringan partikel kecil yang terpisah (misalnya Gel Aluminium Hidroksida). Dalam sistem dua fase, jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar, massa gel kadang-kadang dinyatakan sebagai magma (misalnya Magma Bentonit). Baik gel maupun magma dapat berupa tiksotropik, membentuk semipadat jika dibiarkan dan menjadi cair pada pengocokan. Sediaan harus dikocok dahulu sebelum digunakan untuk menjamin homogenitas

Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul organik yang tersebar merata dalam suatu cairan hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang terdispersi dan cairan. Gel tipe ini dapat dibuat dari makromolekul sintetik seperti karbomer atau dari gom alam seperi tragakan.

5. Implan (Implants)

Implan atau pelet adalah sediaan dengan massa padat steril berukuran kecil, berisi obat dengan kemurnian tinggi (dengan atau tanpa eksipien), dibuat dengan cara pengempaan atau pencetakan. Sediaan ini digunakan dengan cara ditanam di dalam tubuh (biasanya secara subkutan), tujuannya untuk mendapatkan pelepasan obat yang kontinu dalam jangka waktu lama. Contoh sediaan implan adalah KB implan.

6. Imunoserum (immunosera)

Imunoserum adalah sediaan mengandung imunoglobulin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. Imunoserum mempunyai kekuatan khas mengikat venin atau toksin yang dibentuk oleh bakteri, atau mengikat antigen bakteri, antigen virus atau antigen lain yang digunakan untuk pembuatan sediaan. Imunoserum didapat dari hewan sehat yang disuntikkan suatu antigen yang sesuai dan tidak boleh diberikan penisilin, sehingga akan terbentuk kekebalan. Imunoglobulin khas diperoleh dari serum yang mengandung kekebalan dengan pengendapan fraksi dan perlakuan dengan enzim atau dengan cara kimia/fisika lain.

Pengawet antimikroba dapat digunakan bila sediaan dikemas dalam dosis ganda. Sediaan akhir steril dibuat secara aseptis. Sediaan juga dapat dibuat beku kering (freeze dry) untuk mengurangi kadar air. Wadah kemudian ditutup kedap dalam hampa udara atau diisi gas inert seperti nitrogen bebas oksigen.

Imunoserum yang perlu direkonstitusi harus memenuhi syarat:

  • pH antara 6,0 – 7,0
  • Protein total tidak lebih dari 17%
  • Albumin: kecuali dinyatakan lain dalam monografi, jika ditetapkan secara elektroforesis, imunoserum menunjukkan tidak lebih dari sesepora protein yang mempunyai mobilitas albumin.
  • Protein asing: hanya mengandung protein galur hewan yang digunakan jika ditetapkan dengan uji pengendapan menggunakan imunoserum khas
  • Jika menggunakan fenol sebagai pengawet maka kandungan fenol tidak boleh lebih dari 0,25%
  • Memenuhi syarat toksisitas abnormal
  • Memenuhi syarat uji sterilitas
  • Dilakukan penetapan potensi

7. Inhalasi (Inhalations)

Inhalasi adalah bentuk sediaan yang digunakan dengan cara dihirup melalui mulut atau hidung untuk mendapatkan efek lokal maupun sistemik. Sediaan inhalasi dapat berupa inhaler maupun nebulizer. Contoh sediaan inhaler antara lain inhaler dosis terukur bertekanan (metered dose inhaler atau MDI). Beberapa pasien mengalami kesulitan dalam menggunakan MDI karena harus menekan inhaler bersamaan dengan menarik nafas, sehingga saait ini muncul sediaan breath actuated inhaler yang tidak perlu ditekan untuk mengeluarkan obat, pasien cukup menghirup nafas panjang melalui mouthpiece. Selain itu ada juga Inhaler serbuk kering atau dry powder inhaler (DPI). Sesuai dengan namanya, obat pada sediaan ini berbentuk serbuk dengan ukuran partikel yang kecil sehingga dapat dihirup untuk mencapai saluran pernapasan.

Untuk pasien yang kesulitan menggunakan inhaler, dapat menggunakan nebulizer. Alat ini mengubah bentuk larutan obat menjadi aerosol yang dapat dihirup melalui corong khusus yang terhubung dengan alat nebulizer.

Sediaan Lain

Macam-macam Sediaan Umum Obat (Bagian 2): Mengenal sediaan injeksi, irigasi, kapsul, krim, larutan, pasta, dan plester.

Macam-macam Sediaan Umum Obat (Bagian 3): Mengenal sediaan obat mata, serbuk, supositoria, suspensi, salep, tablet, dan vaksin.


Itu tadi sekilas mengenai sediaan farmasi yang umum digunakan di masyarakat. Setiap bentuk sediaan memiliki tujuan masing-masing untuk mempermudah penggunaan obat maupun untuk menjaga agar obat tetap berkhasiat saat digunakan. Kita harus memperhatikan dan memahami bentuk sediaan obat apa yang kita terima agar mendapatkan manfaat terapi yang maksimal dari obat tersebut. Untuk penjelasan mengenai penggunaan sediaan obat dapat dilihat pada artikel Cara Menggunakan Berbagai MacamSediaan Obat.

Post a Comment